PELATIHAN AGRIBISNIS PETANI MILENIAL ANGKATAN VI: PEMBUKAAN PELATIHAN DAY 1
Soropadan, Temanggung – Sektor pertanian di Indonesia sedang berada di persimpangan jalan yang krusial. Di satu sisi, tantangan global seperti perubahan iklim, degradasi kualitas lahan, dan fluktuasi harga pasar menuntut adaptasi yang cepat. Di sisi lain, sebuah realitas pahit membayangi: krisis regenerasi petani. Bagaimana masa depan ketahanan pangan kita jika generasi mudanya enggan menyentuh lumpur?
Menjawab tantangan besar tersebut, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah tidak tinggal diam. Melalui Balai Pelatihan Pertanian (BAPELTAN) Jawa Tengah, sebuah langkah taktis dan strategis resmi digulirkan.
Tepat pada tanggal 8 hingga 11 Juni 2026, suasana di Jl. Raya Magelang - Semarang Km. 12,8 Soropadan, Pringsurat, Kabupaten Temanggung tampak berbeda dari biasanya. Perwakilan pemuda dari masing-masing kabupaten berkumpul dengan satu visi yang sama: mengubah paradigma pertanian kuno menjadi agribisnis modern yang menjanjikan.
BAPELTAN Jawa Tengah secara resmi menyelenggarakan Pelatihan Agribisnis Petani Milenial Angkatan V dan VI yang disinergikan langsung dengan Pelatihan Budidaya Tembakau Angkatan I dan II. Momentum ini menjadi tonggak sejarah penting dalam mencetak motor penggerak pertanian masa depan yang berbasis teknologi, inovasi, dan kemandirian ekonomi.
Laporan Ketua Penyelenggara: Mengupas Cetak Biru dan Fondasi Pelatihan
Acara yang berlangsung selama empat hari ini dibuka dengan laporan komprehensif dari Ketua Penyelenggara, Bapak Agung Wibowo, S.P., M.Si. Dalam laporannya, beliau menggarisbawahi pentingnya menyelaraskan kompetensi teknis pertanian dengan kemampuan manajerial serta adaptasi digital.
1. Lima Pilar Kompetensi Utama (Tujuan Pelatihan)
Bapak Agung Wibowo memaparkan secara rinci lima tujuan utama yang wajib dicapai oleh seluruh peserta setelah menyelesaikan program pelatihan intensif ini:
Memahami Kebijakan Pembangunan Pertanian Nasional dan Peran Strategis Petani Milenial: Peserta dibekali wawasan makro mengenai arah kebijakan pangan nasional. Tujuannya agar mereka mampu menempatkan diri sebagai aktor utama—bukan sekadar objek—dalam pengembangan sektor pertanian modern yang dicanangkan pemerintah.
Menumbuhkan Sikap Wirausaha yang Inovatif, Mandiri, Berintegritas, dan Berorientasi Pasar: Mengubah pola pikir dari sekadar "petani yang menanam" menjadi "pengusaha (agripreneur) yang mengelola bisnis". Integritas dan kemandirian menjadi modal utama agar usaha yang dibangun memiliki fondasi yang kokoh dan tahan banting.
Menerapkan Pengelolaan Agribisnis Berbasis Hulu-Hilir Digital: Di era industri 4.0, pertanian tidak bisa lepas dari teknologi. Peserta diajarkan bagaimana melakukan analisis potensi dan peluang usaha menggunakan instrumen digital, serta mengintegrasikan rantai pasok dari hulu (produksi) hingga ke hilir (pemasaran/e-commerce).
Mengadopsi Teknologi Budidaya dan Prinsip Pertanian Berkelanjutan (Sustainable Agriculture): Produktivitas yang tinggi tidak boleh mengorbankan kelestarian lingkungan. Pelatihan ini menekankan pada penggunaan teknologi budidaya yang ramah lingkungan guna meningkatkan daya saing produk di pasar domestik maupun internasional.
Menghitung Kelayakan Usaha dan Menyusun Business Plan yang Efektif: Kreativitas tanpa kalkulasi finansial yang matang akan berujung pada kegagalan. Oleh karena itu, peserta dilatih secara khusus untuk menghitung kelayakan usaha (feasibility study) serta menyusun rencana bisnis yang siap pakai dan berorientasi pasar.
2. Output yang Diharapkan (Keluaran)
Target konkret dari penyelenggaraan diklat ini adalah terlatihnya 30 orang petani dan pendamping petani yang kompeten. Mereka dipersiapkan untuk menjadi pionir, mentor, sekaligus penggerak roda agribisnis petani milenial di tingkat kabupaten masing-masing. Alumnus pelatihan ini diharapkan mampu menciptakan multiplier effect (efek domino positif) dengan menularkan ilmunya kepada kelompok tani di daerah asal mereka.
3. Legal Standing (Dasar Pelaksanaan Kegiatan)
Penyelenggaraan pelatihan ini memiliki dasar hukum dan legalitas yang sangat kuat, yang merujuk pada regulasi tingkat nasional hingga daerah, antara lain:
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.
Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Jawa Tengah Nomor 5 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.
Keputusan Kepala Balai Pelatihan Pertanian Nomor 11 Tahun 2026 tertanggal 4 Mei 2026 tentang Penyelenggaraan Pelatihan Agribisnis Petani Milenial Tahun 2026.
4. Alokasi Peserta dan Fasilitas yang Disediakan
Untuk memastikan proses belajar mengajar berjalan optimal dan tepat sasaran, pihak panitia menerapkan kriteria seleksi dan fasilitas penunjang yang sangat ketat namun humanis:
| Kategori | Keterangan / Ketentuan |
| Persyaratan Fisik & Usia | Sehat jasmani dan rohani, dengan usia maksimal 40 tahun (kategori milenial). |
| Rekam Jejak | Belum pernah mengikuti pelatihan sejenis sebelumnya agar asas pemerataan kesempatan terpenuhi. |
| Legalitas Peserta | Wajib mendapatkan Surat Rekomendasi resmi dari Dinas Pertanian Kabupaten masing-masing. |
| Fasilitas Penginapan & Konsumsi | Akomodasi penginapan gratis, makan 3 kali sehari, dan kudapan (coffee break) 2 kali sehari sepenuhnya ditanggung penyelenggara. |
| Uang Harian | Mendapat pengganti uang harian sebesar Rp 75.000 / orang / hari secara penuh (tanpa potongan pajak). |
| Sumber Pendanaan | Seluruh pembiayaan kegiatan ini bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Tengah serta Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). |
Sambutan Kepala BAPELTAN Jateng: Menatap Realita dan Menantang Paradigma Lama
Setelah laporan dari ketua penyelenggara selesai dibacakan, acara dilanjutkan dengan sambutan hangat sekaligus membakar semangat dari Kepala BAPELTAN Jawa Tengah, Ibu Novita Luh Widiyastuti, S.P., M.Si.
Dalam orasinya, Ibu Novita memaparkan posisi strategis BAPELTAN sebagai instansi di bawah naungan Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah. Beliau mengingatkan kembali bahwa Provinsi Jawa Tengah memiliki peran krusial sebagai salah satu penumpu pangan nasional. Peran ini tidak hanya terbatas pada komoditas pangan pokok seperti padi, tetapi juga pada komoditas perkebunan yang memiliki nilai ekonomi primer sangat tinggi (primary economy), salah satunya adalah tembakau.
Membedah Tantangan Nyata Sektor Pertanian Modern
Dengan gaya penyampaian yang lugas dan penuh empati, Ibu Novita membedah empat tantangan besar (quadruple challenges) yang saat ini sedang dihadapi oleh dunia pertanian kita:
1. Degradasi Kesuburan Lahan
Penggunaan pupuk kimia sintetis secara masif dan terus-menerus selama puluhan tahun telah membuat tanah kita lelah dan kehilangan pori-pori organiknya. Kerusakan struktur tanah ini berimbas langsung pada penurunan produktivitas hasil panen. Petani milenial dituntut untuk membawa solusi berupa penerapan pertanian organik, pemanfaatan pupuk hayati, serta elisitor nabati guna mengembalikan kejayaan kesuburan tanah kelolaan mereka.
2. Manajemen On-Farm dan Off-Farm yang Belum Efektif
Sebagian besar petani kita masih fokus pada aktivitas on-farm (hanya menanam dan memanen), namun sering kali abai pada proses off-farm (pascapanen, pengolahan produk turunan, dan strategi pemasaran). Akibatnya, ketika panen raya tiba, harga komoditas kerap anjlok karena petani tidak memiliki posisi tawar atau teknologi pengolahan pascapanen yang memadai.
3. Krisis Demografi Petani (Hilangnya Gen Z)
Ini adalah alarm paling keras bagi ketahanan pangan bangsa. Berdasarkan data statistik terbaru, komposisi petani dari generasi Y (milenial) hanya berkisar di angka 18,78%. Yang lebih mengejutkan sekaligus memprihatinkan, keterlibatan generasi Z (Gen Z) hampir menyentuh angka 0% atau praktis tidak ada di sektor hulu pertanian. Jika tren ini dibiarkan, dalam dua dekade ke depan kita akan menghadapi kelangkaan petani lokal yang akut.
4. Paradigma Pertanian yang "Kotor" dan "Tidak Keren"
Mengapa anak muda enggan bertani? Jawabannya ada pada stigma sosial. Di mata sebagian besar generasi muda, pertanian diidentikkan dengan kemiskinan, kerja fisik yang melelahkan di bawah terik matahari, kubangan lumpur yang kotor, serta masa depan yang tidak pasti. Tugas besar petani milenial saat ini adalah mendobrak paradigma usang tersebut. Pertanian modern saat ini adalah tentang mekanisasi, otomatisasi greenhouse, analisis data sensor tanah, digital marketing, dan manajemen korporasi. Pertanian itu keren, pertanian itu seksi, dan pertanian itu kaya!
Seruan untuk Berbagi dan Berinovasi
Di akhir sambutannya, Ibu Novita menitipkan pesan mendalam kepada 30 peserta yang hadir. Beliau meminta agar forum pelatihan ini tidak sekadar menjadi tempat menyerap ilmu secara pasif, melainkan dijadikan ruang sharing knowledge (berbagi pengetahuan) yang hidup.
Setiap peserta membawa karakteristik, kearifan lokal, dan problematika daerah yang berbeda-beda. Kolaborasi antarpeserta diharapkan mampu melahirkan inovasi-inovasi segar. Sekembalinya ke daerah asal, ilmu yang didapat wajib disebarluaskan kepada petani-petani lain di pedesaan agar tercipta gerakan pembaruan yang masif di seluruh penjuru Jawa Tengah.
Kolaborasi Lintas Sektor: Menghadirkan Fasilitator dan Narasumber Kompeten
Untuk melahirkan pemikiran yang komprehensif, BAPELTAN Jawa Tengah tidak berjalan sendiri. Pihak penyelenggara mendatangkan kolaborasi fasilitator dan narasumber multipihak yang kompeten di bidangnya masing-masing. Kombinasi ini sengaja dirancang agar peserta mendapatkan perspektif yang seimbang antara regulasi pemerintah, teori akademis, keahlian teknis, hingga realita bisnis di lapangan.
Berikut adalah jajaran fasilitator dan narasumber yang mengawal jalannya pelatihan selama empat hari penuh:
BAPELTAN Jawa Tengah: Memberikan pembekalan teknis mengenai metodologi pertanian, standardisasi mutu, serta fasilitasi sarana prasarana diklat yang representatif.
BPSDMD Provinsi Jawa Tengah: Berfokus pada pengembangan sumber daya manusia, pembentukan karakter kepemimpinan (leadership), integritas diri, serta pembangunan mentalitas wirausaha (entrepreneurial mindset).
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Senior: Menjadi jembatan ilmu yang aplikatif berdasarkan pengalaman nyata mendampingi petani di berbagai medan wilayah Jawa Tengah.
Perusahaan Swasta & Korporasi Agribisnis: Menghadirkan materi terkait standarisasi industri, manajemen rantai pasok (supply chain), manajemen mutu komoditas ekspor, serta membuka peluang kemitraan pasar (market link) bagi produk para petani milenial.
Forum Komunikasi (FK) Purnawidya: Wadah berkumpulnya para alumni pelatihan pertanian berprestasi terdahulu dan para purnabakti yang siap membagikan kisah sukses (success story), kegagalan yang pernah dihadapi, serta tips dan trik bertahan di industri agribisnis dalam jangka panjang.
Praktisi Pertanian dan Agripreneur Sukses: Menghadirkan inspirasi nyata dari para pelaku usaha yang sudah berhasil membuktikan bahwa dari sektor pertanian, mereka mampu meraup omzet ratusan juta rupiah per bulan dengan memanfaatkan teknologi modern.
Metodologi Pembelajaran: Merasakan, Mengolah, dan Mengaplikasikan Melalui Metode AKOSA
Sebuah pelatihan teknis tidak akan pernah efektif jika hanya menggunakan metode ceramah satu arah di dalam ruang kelas yang membosankan. Menyadari hal tersebut, BAPELTAN Jawa Tengah menerapkan pendekatan pembelajaran khusus orang dewasa (Andragogy) yang bersifat pembaruan (refreshing and inovative).
Metode yang digunakan adalah Experiential Learning Cycle (ELC) atau yang di Indonesia populer dengan akronim AKOSA (Alami, Kemukakan, Olah, Simpulkan, Aplikasikan). Pendekatan ini menempatkan peserta sebagai subjek utama pembelajaran, di mana pengalaman nyata menjadi guru terbaik.
Mari kita bedah bagaimana tahapan AKOSA ini diaplikasikan selama 4 hari jalannya pelatihan di Soropadan:
1. Alami (Experiencing)
Pada tahap pertama ini, peserta langsung dihadapkan pada realita fisik atau simulasi kasus di lapangan.
Untuk kelas Petani Milenial: Peserta diajak melakukan simulasi analisis pasar digital, membedah aplikasi smart farming, atau mengoperasikan alat mekanisasi pertanian modern.
Untuk kelas Budidaya Tembakau: Peserta langsung diterjunkan ke lahan praktik untuk menyentuh tanah, mengamati karakteristik bibit tembakau varietas unggul, mengidentifikasi gejala serangan hama, serta mempraktikkan teknik pemupukan berimbang secara langsung.
2. Kemukakan (Publishing)
Setelah mengalami sendiri proses di lapangan, peserta diminta untuk mengungkapkan apa yang mereka lihat, rasakan, dan temukan. Dalam sesi diskusi kelompok yang dinamis, mereka bebas mengemukakan pendapat. Misalnya, “Mengapa tanah di plot A lebih keras dibanding plot B?” atau “Apa kendala terbesar saat mencoba memasarkan produk lewat platform digital?” Tahap ini melatih keberanian berpendapat dan kemampuan berkomunikasi efektif para petani muda.
3. Olah (Processing)
Data, temuan, dan opini yang telah dikemukakan kemudian diolah bersama-sama di bawah bimbingan fasilitator. Peserta menganalisis mengapa suatu masalah bisa terjadi dan mencari polanya. Di sinilah teori-teori ilmiah dari narasumber dikombinasikan dengan fakta lapangan. Proses evaluasi kritis terjadi pada tahap ini untuk menyaring informasi yang benar-benar valid dan aplikatif.
4. Simpulkan (Generalizing)
Dari hasil pengolahan masalah, peserta dengan difasilitasi oleh narasumber menarik satu kesimpulan atau prinsip dasar yang bersifat umum. Misalnya, disimpulkan bahwa untuk menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin dan mutu daun yang optimal, waktu pemangkasan pucuk bunga (topping) harus dilakukan tepat waktu dengan teknik tertentu. Kesimpulan ini menjadi "rumus sukses" baru bagi mereka.
5. Aplikasikan (Applying)
Tahap akhir yang paling krusial. Ilmu, rumus sukses, dan keterampilan yang telah disimpulkan tidak boleh berhenti di atas kertas blocknote pelatihan saja. Peserta ditantang untuk menyusun rencana aksi nyata (Action Plan) atau business plan yang akan mereka terapkan langsung di lahan atau bisnis mereka sendiri begitu kembali ke kabupaten asal. Inilah esensi utama dari pembelajaran orang dewasa: ilmu yang didapat harus segera membawa perubahan konkret pada perilaku kerja dan produktivitas usaha.
Mengapa Kolaborasi Petani Milenial dan Budidaya Tembakau Ini Sangat Strategis?
Mungkin timbul pertanyaan di benak kita, mengapa BAPELTAN Jawa Tengah menggabungkan pelatihan agribisnis petani milenial dengan pelatihan budidaya tembakau secara simultan? Jawabannya terletak pada nilai sinergi ekonomi dan ekologis.
Tembakau merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan di Jawa Tengah yang berpusat di wilayah Temanggung, Wonosobo, Boyolali, dan sekitarnya. Industri ini menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan daerah melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).
Namun, tantangan terbesar industri tembakau tradisional adalah minimnya sentuhan teknologi modern dan tata kelola niaga yang masih konvensional. Dengan mempertemukan para Petani Milenial yang melek digital dengan para Petani Tembakau, diharapkan terjadi asimilasi teknologi yang luar biasa:
Digitalisasi Rantai Pasok Tembakau: Petani milenial dapat membantu merancang sistem pelacakan kualitas (traceability system) daun tembakau dari tingkat lahan hingga ke gudang pabrikan menggunakan aplikasi berbasis Android.
Efisien Biaya Produksi Berbasis Data: Melalui penerapan internet of things (IoT) seperti sensor kelembaban tanah dan cuaca, petani dapat memprediksi waktu tanam dan dosis pemupukan tanaman tembakau secara presisi, sehingga menghemat biaya operasional hingga 30%.
Peningkatan Posisi Tawar Petani: Dengan pemahaman analisis kelayakan usaha dan business plan yang diajarkan dalam pelatihan ini, petani tidak lagi mudah dipermainkan oleh spekulan pasar (tengkulak). Mereka mampu menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) secara akurat, sehingga bisa bernegosiasi secara bermartabat dengan pihak kemitraan pabrik.
Mari kita dukung penuh langkah nyata para petani milenial kita. Dari bumi Soropadan, Temanggung, gaung kebangkitan kedaulatan pangan nasional resmi dikumandangkan. Selamat berjuang para agripreneur muda, jadilah tuan rumah di negeri sendiri, dan buktikan bahwa menjadi petani adalah pilihan hidup yang paling membanggakan!

Komentar