MIKROBA PA 63 WD05: Pupuk Hayati Membantu Kesuburan Tanah

MIKROBA PA 63 WD05: PUPUK HAYATI MEMBANTU KESUBURAN TANAH


Pupuk hayati merupakan pupuk organik yang terbentuk dari sekumpulan mikroba dan bermanfaat membantu pertumbuhan tanaman, memperbaiki sifat fisik dalam struktur agregat tanah dan sifat kimia tanah mengenai KTK tanah (kapasitas Tukar Kation) dimana tanah mampu menahan ion bermuatan positif lebih kuat lagi. Pupuk mikroba PA 63 WD05 dikenalkan pertamakali ke kabupaten Pati oleh Profesor Iman Untung Slamet bekerjasama dengan Bupati dan Dandim 0718/Pati. Bibit mikroba kemudian dikembangbiakkan secara massive ke berbagai koramil daerah Pati Raya yang dapat dinikmati secara langsung oleh masyarakat setempat yang membutuhkan. Pada dasarnya TNI Angkatan Darat memiliki tugas di pemerintahan untuk membantu ketahanan pangan dengan memberikan perlindungan dan layanan yang dapat membantu mempermudah petani dalam membudidayakan tanaman. 
Iman Untung Slamet
Gambar. Profesor Iman Untung Slamet
Penuturan dari Pak Abdul Babinsa Brigade Pangan Pati Pangan Jawi menjelaskan bahwasannya pupuk hayati ini pertama kali diaplikasikan di Puslatpur Baturaja Sumatera Selatan karena tanah di area tersebut merupakan lahan gambut yang perlu penanganan khusus sebelum dilakukan penanaman. Hasil dari Inovasi pembuatan mikroba PA 63 WD05 memberikan dampak yang signifikan dengan adanya peningkatan produktifitas padi yang dihasilkan oleh petani di atas lahan gambut. Bukti inilah yang menjadikan Bupati Pati mengadopsi inovasi mikroba PA 63 WD05 untuk swasembada pangan Pati. Bupati berharap produktifitas pertanian di Pati bisa menghasilkan 10 ton/ha setelah pengaplikasian dari larutan mikroba PA 63 WD05.

Bagaimana Cara Memperbanyak Mikroba PA 63 WD05?

Pembuatan pupuk hayati membutuhkan bahan bahan mudah ditemukan, berikut ketentuan yang harus diperhatikan dalam memilih bahan:
  • Bibit mikroba PA 63 WD05 dapat ditemukan diberbagai koramil daerah Pati Raya dan sekitarnya.
  • Kacang hijau, rendam terlebih dahulu sampai lunak sebelum dihaluskan.
  • Pisang, berbagai jenis pisang dan kondisi pisang yang belum melalui proses pengolahan lanjutan dapat dijadikan untuk membantu memperbanyak mikroba.
  • Daun kelor, semua bagian daun kelor (muda atau tua) dapat digunakan.
  • Gula Aren, bahan ini sangatlah penting sehingga dibutuhkan gula aren yang asli, atau dapat menggunakan gula kelapa atau gula siwalan. Penggunaan gula tebu, gula stevia atau gula olahan lainnya dianjurkan untuk tidak digunakan karena memiliki hasil akhir yang kurang optimal.
Microbial Multiplication
Tahap Pembuatan dalam 1 Galon
Alat dan Bahan:
  • Bibit mikroba PA 63 WD05 1.5L
  • Kacang hijau 1/4 kg
  • Pisang 1/2 sisir
  • Daun kelor 1/4 kg atau 2-3 ikat
  • Gula aren 1/4 kg
  • Air
  • Galon
  • Blender atau Penghancur lainnya
  • botol plastik
  • Pisau
Tahap Pembuatan
1. Siapkan alat dan bahan yang digunakan.
2. Haluskan semua bahan dan campurkan kedalam galon.
3. Masukkan air hingga 2/3 volume galon, karena 1/3 volume sisanya digunakan untuk ruang hasil fermentasi karbon dioksida (CO2) atau dapat menggunakan sistem airlock sederhana. Pembuatan airstock sederhana dapat menggunakan tambahan botol yang berisi air dan selang yang saling menyambung dengan wadah fermentasi.
4. Tutup rapat wadah fermentasi dan tunggu hingga 3 hari.
5. Apabila tercium aroma wangi fermentasi atau aroma tape menandakan fermentasi perbanyakan mikroba PA 63 WD05 berhasil dan siap diaplikasikan langsung.
6. Saring larutan dan dapat disimpan kedalam botol plastik. Masa penyimpanan dan pemberian ulang nutrisi bagi mikroba dilakukan perulangan setelah 1 bulan karena meminimalisir adanya kematian dari mikroba. Tahap pemberian nutrisi dilakukan dengan mengulang tahapan ini.

Bagaimana Cara Pengaplikasian ke Lahan?

Penggunaan larutan mikroba PA 63 WD05 dapat diaplikasikan sebelum tanam dengan takaran satu botol plastik atau 600ml/tangki (15-18L). Teknik spraying dilakukan dengan droplet yang lebih besar tetesannya.

Kelebihan dan Kekurangan Mikroba PA 63 WD05

Kelebihan dari larutan mikroba PA 63 WD05 meliputi:
  • Menginduksi proses perkecambahan menjadi lebih cepat dari waktu pada umumnya
  • Menjadi peran bioremediasi pada tanah dengan meningkatkan KTK (Kapasitas Tukar Kation) dan membantu perbaikan kesuburan tanah.
  • Meningkatkan kesehatan ikan air tawar dengan hasil produktifitas bobot panen ikan meningkat.
  • Dapat ditemukan dengan mudah di koramil setempat karena merupakan progam TNI AD dalam membantu ketahanan pangan dan sifatnya gratis untuk pertanian.
Kekurangan dari Larutan Mikroba PA 63 WD05 meliputi:
  • Belum adanya informasi terkait jenis mikroba yang menajdi inokulan dari larutan PA 63 WD05, sehingga para petani masih bergantung dengan larutan stock bibit yang ada di koramil.
  • Sertifikasi dan standarisasi penggunaan pupuk hayati PA 63 WD05 masih belum ada, sehingga memungkinkan adanya kekurangan atau kelebihan dosis yang diberikan dan aktivasi mikroba yang tidak diketahui batasan waktunya. 


Komentar