Asal Usul Anak Swasembada Pangan NKRI
“Masalah
pangan adalah hidup dan matinya bangsa Indonesia. Ini masalah kedaulatan,
masalah kemerdekaan dan survival kita sebagai bangsa. Kalau mau, pangan harus
aman dulu. Saya minta semua pihak bekerja dengan hati yang tulus, cinta, dan patriotism
tinggi, setia pafa tujuan swasembada pangan”
-Presiden
Prabowo Subianto-
“Mengapa Indonesia harus kuat dan mandiri di sektor pangan?”
Dibawah
kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia memiliki visi besar Indonesia
Emas 20245, dengan ketahanan pangan sebagai pilar utama. Tantangannya nyata:
produktivitas pertanian, iklim ekstrem dan ancaman gejolak pangan global. Langkah
yang diambil oleh pemerintah adalah menggalakkan transformasi system pangan berbasis
data, teknologi dan berkelanjutan. Dalam UU No.59 Tahun 2024 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025-2045 ditegaskan bahwa Pembangunan pangan
difokuskan pada peningkatan produktivitas, regenerasi petani dan perluasan
akses pangan bergizi.
Komitmen
global terhadap ketahanan pangan tercermin dalam SDGs (Sustainable Development
Goals) Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya nomor 2 (Zero Hunger)
Gambar.
Sustainable Development Goals (SDGs)
“End
hunger, achieve food security and improved nutrition and promote sustainable
agriculture”
Menargetkan
pada pengakhiran kelaparan, peningkatan gizi dan pembanguna pertanian berkelanjutan.
Target yang harus dicapai tahun 2030:
1. Tidak ada lagi kelaparan didunia
Menghapus seluruh bentuk kekurangan gizi, khususnya pada balita stunting dan/atau wasting dengan tenggat waktu 2025.
3. Meningkatkan
produktivitas dan pendapatan produsen pangan skala kecil
4. Menjamin
system produksi pangan yang berkelanjutan
5. Menjaga
keberagaman genetic benih, tanaman, hewan, ternak dan spesies lain
Kondisi
pertanian nasional menghadapai berbagai tantangan structural yaitu:
1. Alih
fungsi lahan
2. Infrastruktur
irigasi yang belum terintegrasi den terkelola dengan baik
3. Penurunan
kesuburan tanah.
Usaha
tani khususnya komoditas utama padi semakin bergantung pada input eksternal
yang mahal, namun belum menghasilkan peningkatan produktivitas yang signifikan.
Akibatnya biata produksi meningkat, daya saing melemah, dan tekanan terhadap
masuknya pangan impor semakin besar yang akhirnya berdampak langsung pada
penurunan pendapatan petani. Oleh karena itu dalam mewujudkan swasembada pangan
kunci utamanya adalah dengan melakukan restorasi efisiensi produksi,
peningkatan kapasitas petani dan melindungi terhadap lahan pertanian.
Tiga
sektor utama membangun kemandirian bangsa adalah pangan, energi dan keuangan. Asta
Cita pemerintah Prabowo-Gibran (2024):
“Memantapkan
system pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui
swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau dan ekonomi
biru.”
Pemerintah
Sebelumnya menjadikan Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia 2045. Dibawah
pemerintahan presiden prabiwi Pembangunan pertanian diarahkan bukan hanya untuk
mengejar swasembada, tetapi untuk memperkuat daya saing produk pangan nasional
agar mampu merebut peluang di pasar global. Oleh karena itu ada 4 pilar utama yang
menjadi landasan strategis:
1. Kebijakan
politik nasional harus memposisikan Pembangunan pertanian pangan sebagai
prioritas utama.
Pemerintah
dituntut dalam permudahan akses sumberdaya pertanian terutama lahan dan sarana
produksi.
2. Peningkatan
produksi pangan harus berhalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan petani
Produktivitas
meningkat diimbangi dengan efisiensi biata usaha tani dan peningkatan
pendapatan petani.
3. Reformasi
agrarian dan optimalisasi lahan terlantar
Adanya
dukungan pembiayaan dan subsidi menjadi prioritas dalam memperkuat kapasitas produksi
pangan nasional
4. Keselarasan
sinergi antar pemangku kepentingan, baik dari pusat maupun daerah.
Perlu
adanya pemahaman Bersama serta koordinasi yang kuat antar lintas Kementerian dan
Lembaga.
Upaya
mencapai swasembada pangan membutuhkan strategi yang matang dan terintegrasi
untuk mengatasi berbagai hambatan. Tantangan utama yang perlu diperhatikan :
1. Penyusutan
lahan
Alih
fungsi lahan sawah menjadi Kawasan industry dan perumahan berlangsung massif terus
menerus. Kondisi ini mengancam peningkatan kapasitas produksi pangan nasional
dan merusak ekosistem pertanian yang telah terbentuk secara historis dan social.
Alih fungsi lahan yang tidak terkendali menyebabkan penurunan luas lahan,
penurunan hasil produksi pangan, meningkatnya harga bahan pangan, dan hilangnya
pekerjaan bagi petani dan buruh tani.
2. Krisis
regenerasi petani
Generasi
muda menganggap pekerjaan tani kurang menjanjikan secara ekonomi dan tidak
memiliki gengsi dimata social. Generasi X masih mendominasi dengan 42,39%, usia
mendekati masa pension. Ironisnya generasi milenial hanya mencangkup 25, 61%
dan generasi Z nyaris tidak terlihat.
Gambar. Sebaran Petani Menurut Generasi Tahun 2023
3. Sifat
ketergantungan petani terhadap pupuk kimia, benih hibrida dan pestisida
sintesis.
Ketergantungan
ini berdampak pada meningkatnya biata produksi dan ironisnya harga jual
pertanian cenderung fluktuatif dan sering tidak menguntungkan bagi petani.
Penggunaan bahan kimia ini merusak ekosistem yang menyebabkan parahnya
degradasi tanah, dan membuat petani terjebak dalam siklus ketergantungan yang sulit
diputuskan. Petani harus terus menggunakan produk kimia untuk menghasilkan
panen meski hasilnya tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
4. Akses
petani kecil diwilayah terpencil terhadap pembiayaan, teknologi dan pasar masih
sangat terbatas.
Meskipun
pemerintag meluncurkan berbagai program subsidi dan bantuan, didalamnya
terdapat kendala birokrasi serta ketidktepatan sasaran yang sering menghambat
ekektivitasnya. Inovasi, teknologi pertanian dan digitalisasi sepenuhnya belum
tersebar luas dan belum menjadi perhatian utama bagu praktik pertanian tradisional
atau petani di desa. Tantangan serius yang dihadapi petani mulai dari fluktuasi harga komoditas,
perubahan iklim, penyusutan luas lahan, ketidakpastian dalam kepemilikan tanah,
hingga keterbatasan akses terhadap teknologi, infrastruktur dan pembiayaannya.
Akibatnya kurang optimalnya pemanfaatan lahan dan produktivitas tenaga kerja
tetap rendah.
5. Lemahnya
koordinasi antar sektor serta tumpeng tindihnya kebijakan.
Sektor
pertanian sering tidak diperioritaskan dalam perencanaan Pembangunan di Tingkat
daerah. Ketidaksinkronan antara kebijakan pusat dan daerah, serta banyaknya
hambatan dibidang investasi pertanian. Prosedur birokrasi rumit, kurang
transparan, dan tidak ramah bagi investor menimbulkan biaya ekonomi yang tinggi
serta ketidakpastian waktu pengurusan izin, minimnya informasi potensi, peluang
dan prosedur investasi sektor pertanian.
Dinamika
tantangan tersebut menunjukkan bahwa swasembada pangan bukan hanya perkara meningkatkan
produksi, tetapi juga menyangkut persoalan tata Kelola, pemberdayaan masyarakat
dan keberpihakan kebijakan. Oleh karena itu diperlukan pendekatan baru yang
lebih holistic, terstruktur dan berakar kuat pada potensi local bangsa. Untuk
menjawab tantangan ketahanan pangan pemerintah Presiden Prabiwi Subianti
meluncurkan program Brigade Pangan, sebuah Gerakan nasional yang melibatkan
berbagai elemn bangsa dalam misi Bersama mewujudkan swasembada pangan yang
berdaulat dan berkelanjutan.
Langkah
yang diambil Kementerian pertanian dalam menghadapi tantangan tersebut melalui
mekanisasi pertanian dalam mempercepat budidata dan pascapanen secara efisien
melalui Brigade Pangan dengan melibatkan petani local melalui musyawarah desam
ditetapkan oleh kepala desa kemudian didaftarkan secara resmi dalam system penyuluhan
pertanian (SIMLUHTAN) Kementerian pertanian. Kunci peningkatan produktivitas
dan efisiensi usaha pertanian di pedesaan dengan oplah (optimalisasi lahan),
penggunaan teknologi tepat guna, dari benih unggul hingga alat modern seperti tractor,
drone, rice transplanter, rotavator dan combine harvester. Inisiatif ini
merupakan agenda Presiden Prabiwi untuk pencapaian swasembada pangan.
Reference:
Sulaiman, Andi Amran. (2025). Brigade Pangan Gerakan Inovatif Petani Muda Menuju Swasembada Pangan. Jakarta: Pertanian Press, Anggota Ikapi.
.jpg)
Komentar